[IRF] Quo Vadis HIMPUN? || 17 Oct 2011

[Klik untuk versi Bahasa]

On 22nd October 2011, several hundred members from over a dozen NGOs will gather in Shah Alam for Himpunan Sejuta Umat (henceforth HIMPUN). The gathering is supposedly defensive: it aims to protect the aqidah (creed) of Malaysian Muslims from the supposedly growing problem of apostasy, namely to Christianity.  Additionally, it also seeks to stress the centrality of Islam in the Malaysian constitution while reiterating the importance of Muslim unity and the crucial role of the royal families as the protector of Islam and the Malay race in Malaysia.

 

It is curious that very little information is given to support those concerns. We are not told how many apostates there are, or which church or churches are the ones actively seeking to convert Muslims, or if Christians are the only non-Muslims who are most actively evangelizing. Much of the fervour seems to be founded on hunches and guesses. 

In this there are two outstanding questions that should occur to any sincere and concerned Muslim. If it is true that apostasy is as serious a problem as it is claimed, then we must ask, what is it about Muslim culture and education in Malaysia that is compelling many Muslims to leave the faith? In addition, what can Malaysian Muslims do as a community to reform that culture to further enlighten, rather than alienate, its own members?

To ignore these questions, and to react in such frenzy and haste, is to neglect the responsibility of introspection that Islam demands from Muslims. In our eagerness to blame others, we are forgetting our own possible shortcomings in the very problems we are aiming to address. 

It is also problematic that there has yet to be any constructive conversation with organizations and members of other faiths about this problem. The prevalent message from HIMPUN is that this problem can be addressed only by Muslims, for Muslims; despite the fact that Malaysia is a multiracial and multi-religious country whereby peace and harmony depends on a genuine and amicable understanding between one another.

As a Muslim organization committed to democracy, freedom and justice, the Islamic Renaissance Front regards the freedom of conscience and belief as central Islamic values. Freedom, that is the capacity to explore our options, is the core of faith and ethics. No action from any individual can be regarded as right or wrong unless the individual has the free will to choose that act in the first place. 

Hence we cannot lay blame on someone for something he or she did not wilfully choose to do. The notion of responsibility is only meaningful and valuable upon the assumption that the person was free to accept it. This is the insight that is embedded in the often-cited claim that there shall be no coercion in matters of faith. [Refer al- Qur’an 2:256]

The Islamic Renaissance Front also recognizes that article 11 of the Federal Constitution ensures that every Malaysian has the right to profess and practice his or her religion of choice. However there is a jurisdiction granted by Article 11(4) of the federal constitution to permit the state to control or restrict the propagation of religion among people professing to be Muslims. More importantly, this must be read in the context of the Article itself that fundamentally provides for every person the freedom to profess, practice and propagate his religion. 

While Selangor may have an enactment which involves control of propagation amongst Muslims, which was enacted in 1988, this enactment requires serious reviews considering that we're in a new age where human rights, freedom of conscience and freedom of religion are considered as fundamental issues of liberty. Such enactment was not cast in stone hence it is debatable. The review of such enactment is pertinent in a developing society that aspires to respect individual freedom and fundamentals of liberty.

One of the core concepts of Islamic justice is the principle of reciprocity. We can find numerous injunctions in the Qur’an to reciprocate good for good and evil for evil. The principle of reciprocity, central to all religious and secular ethics, lies at the core of the Islamic concept of justice.  The Qur’an is pervaded with injunctions that encourage Muslims to reciprocate good for good and evil for evil. 

The principle is similarly expressed by Immanuel Kant, a German philosopher, in his Formula of Universal Law in which he expresses categorically: “Act only on that maxim through which you can at the same time will that it become a universal law.”

In a modern, multuracial and multireligious society where people of different faiths live side by side, and cooperate under a system of law that recognizes their equal dignity, due attention must be given to the principle of reciprocity as the essence of justice. Any attempt by a religious community to place sanctions and apply coercion on its members who choose to convert to another religious group will place a moral obligation on the latter to defend the new comers who choose to join their faith. 

We would like to reiterate that the “battle cry” of HIMPUN to defend the faith will only show the vicious and intolearnt face of Islam as a religion that always speaks to reason. Hence the question that has to be answered: What positive outcome does HIMPUN expect out of such a ferocious outburst of fiery rhetorics from this gathering? Quo vadis HIMPUN – Whither goest thou?

As an intellectual organization that focuses on youth empowerment, the Islamic Renaissance Front insists that it is duly committed to the goal of Muslim solidarity. However it must be stressed at no uncertain terms that such solidarity is meaningless if it is not founded on principles of liberty and democracy, human rights and the equal dignity of every individuals, Muslims and non-Muslims alike; principles which are obviously and consistently expressed throughout the Muslim canon.


Dr Ahmad Farouk Musa

Mohd Radziq Jalaluddin

Ahmad Fuad Rahmat

Edry Faizal Eddy Yusuf

Islamic Renaissance Front (IRF)

 


 


Versi Bahasa Melayu

 

Quo Vadis HIMPUN? || 17 Oct 2011

Pada 22 Oktober 2011, ratusan orang ahli daripada lebih dua belas NGO dijangka berhimpun di Shah Alam untuk menghadiri Himpunan Sejuta Umat (selanjutnya disebut HIMPUN). Perhimpunan ini tampaknya bercorak defensif: Ia berhasrat mempertahankan aqidah (keyakinan) umat Islam di Malaysia daripada ancaman gejala murtad yang semakin meningkat, terutamanya terhadap agama Kristian. Selain itu, ia juga berusaha menekankan kedudukan Islam yang penting dalam perlembagaan Malaysia di samping mengangkat keutamaan perpaduan umat dan peranan yang mustahak dimainkan oleh kerabat Diraja selaku penaung Islam dan bangsa Melayu di Malaysia.

Namun ia amat mencurigakan kerana terlalu sedikit informasi yang dizahirkan bagi menyokong keprihatinan tersebut. Kita tidak dimaklumkan berapa banyak pelaku murtad, atau gereja mana atau gereja-gereja yang aktif menggerakkan misi pemurtadan umat Islam, atau hanya Kristian saja di kalangan bukan Islam yang aktif menggerakkan dakyah penginjilan. Kebanyakan cetusan ini hanya bersandarkan gerak hati dan andaian semata.

Dalam hal ini terdapat dua kemusykilan yang tinggal yang harus ditanggapi oleh mana jua umat Islam yang ikhlas dan prihatin. Sekiranya benar kasus murtad adalah permasalahan yang serius dan menggugat sebagaimana didakwa, maka kita harus bertanya, bagaimana pula tentang budaya dan pendidikan Islam di Malaysia yang mengakibatkan ramai orang Islam meninggalkan agamanya? Selain itu, apakah yang dapat diusahakan oleh masyarakat Islam di Malaysia sebagai satu jamaah untuk mereformasi budaya tersebut bagi mencerahkan, bukannya mengasingkan, umatnya sendiri?

Untuk mengenepikan persoalan ini, dan bertindak balas dengan penuh emosi dan tergesa-gesa, adalah sebenarnya mencuaikan tanggungjawab untuk melakukan muhasabah dan introspeksi yang dituntut Islam daripada umatnya. Dalam keghairahan kita untuk menyalahkan pihak lain, kita terlupa kekhilafan dan kekurangan kita sendiri dalam menangani permasalahan yang sedang kita depani ini.

Ia juga suatu kemusykilan kerana belum ada perbincangan yang konstruktif dengan organisasi dan penganut agama lain tentang permasalahan ini. Pesanan yang sering diangkat oleh HIMPUN adalah masalah ini hanya boleh ditangani oleh orang Islam, untuk orang Islam; walaupun kenyataannya Malaysia adalah sebuah negara yang berbilang bangsa dan agama di mana keamanan dan keharmonian bergantung pada asas kefahaman dan kemesraan yang tulen antara satu sama lain.

Sebagai sebuah organisasi Islam yang komited kepada faham demokrasi, kebebasan dan keadilan, Islamic Renaissance Front (IRF) memandang kebebasan naluri dan agama sebagai nilai Islam yang utama. Kebebasan, iaitu kapasiti untuk melacak ikhtiar dan pilihan kita, adalah tunggak akidah dan etika. Tidak ada perbuatan individu yang boleh dianggap benar atau salah melainkan individu tersebut punyai kebebasan menentukan kehendaknya untuk bertindak terlebih dahulu.

Oleh itu kita tidak boleh meletakkan kesalahan terhadap seseorang atas sesuatu yang tidak dibuat atas kerelaannya sendiri. Faham pertanggungjawaban hanya bermakna dan bernilai berasaskan asumpsi bahawa seseorang itu bebas dalam menerimanya. Demikian ini adalah pandangan yang tercantum dalam hujah yang sering diketengahkan bahawa tidak harus ada paksaan dalam urusan agama. [sila rujuk al-Qur’an 2: 256].

Islamic Renaissance Front (IRF) turut mengiktiraf artikel 11 Perlembagaan Persekutuan yang memberikan jaminan terhadap setiap rakyat Malaysia memenuhi haknya untuk menganut dan mengamalkan agama yang dipilihnya. Bagaimana pun terdapat penghakiman yang diputuskan oleh Artikel 11 (4) daripada Perlembagaan Persekutuan yang memberi mandat negeri untuk mengawal atau menghadkan penyebaran agama di kalangan rakyat yang menganut kepercayaan Islam. Yang lebih penting, hal ini harus dibaca dalam konteks Artikel itu sendiri yang secara fundamental memperuntukkan setiap manusia ruang kebebasan untuk menganut, mengamal dan menyebarkan agamanya.

Sementara Selangor mungkin mempunyai enakmen yang melibatkan kawalan terhadap penyebaran agama di kalangan orang Islam, yang diwartakan pada tahun 1988, enakmen ini menuntut reviu yang serius memandangkan kita sekarang berada dalam era yang baru di mana hak kemanusiaan, kebebasan naluri dan kebebasan agama dianggap sebagai isu kebebasan yang fundamental. Enakmen tersebut tidak terpahat secara konkrit di atas batu makanya ia boleh diperdebatkan. Langkah mereviu enakmen tersebut adalah releven dalam masyarakat yang maju yang bercita-cita untuk mengiktiraf kebebasan individu dan asas-asas kebebasan.

Salah satu teras penting dalam konsep keadilan Islam adalah prinsip resiprositi. Kita boleh temui banyak perintah dalam al-Qur’an yang menganjurkan pemberian balasan kebaikan dengan kebaikan dan keburukan dengan keburukan. Prinsip resiprositi, yang terpaut kukuh dalam setiap etika agama dan sekular, menunjangi konsep keadilan dalam Islam. Al-Qur’an memuatkan banyak perintah yang menggesa umat Islam membalas kebaikan budi dengan kebaikan dan kejelekan dengan kejelekan.

Prinsip ini turut diungkapkan oleh Immanuel Kant, filasuf German, dalam Formula Undang-Undang Universal yang dilakarkan dengan tuntas: “Bertindaklah hanya mengikut dasar tersebut yang mana anda pada waktu yang sama mengharapkan ia menjadi undang-undang universal.”

Dalam masyarakat moden, yang berbilang kaum dan agama di mana manusia yang berbeza kepercayaan membina kerukunan hidup bersama, dan bekerjasama di bawah satu sistem undang-undang yang mengiktiraf kesamaan harga diri mereka, perhatian yang wajar harus diberikan terhadap prinsip resiprositi sebagai intipati keadilan. Sebarang percubaan oleh satu komuniti agama untuk menyekat dan mengenakan paksaan ke atas penganutnya yang memilih untuk berpindah pada kumpulan agama yang lain akan meletakkan tanggungjawab moral terhadap kumpulan itu untuk mempertahankan penganut baru yang memilih untuk mendakap kepercayaan mereka.

Kami ingin mengulangi bahawa “laungan perang” HIMPUN untuk mempertahankan agama hanya akan menunjukkan watak ganas dan tidak toleran Islam sedangkan ia adalah agama yang sering menyeru pada akal dan hujah. Oleh itu persoalan yang harus dijawab: apakah hasil yang positif diharapkan oleh HIMPUN daripada cetusan yang membakar dan membangkitkan retorik yang berkobar-kobar daripada perhimpunan ini? Quo vadis HIMPUN – ke mana arahmu?

Sebagai sebuah badan intelektual yang menfokuskan kepada pemerkasaan golongan muda, Islamic Renaissance Front ingin menegaskan komitmennya terhadap hasrat penyatuan umat Islam. Bagaimanapun harus ditekankan dengan jelas dan tuntas bahawa solidariti ini tidak bermakna sekiranya tidak disandarkan kepada prinsip kebebasan dan demokrasi, hak kemanusiaan dan kesamaan harga diri setiap individu, baik Islam atau bukan Islam; prinsip yang dengan jelas dan konsisten yang senantiasa dipertahankan dalam seluruh perundangan Islam.

 

Dr Ahmad Farouk Musa

Mohd Radziq Jalaluddin

Ahmad Fuad Rahmat

Edry Faizal Eddy Yusuf

Islamic Renaissance Front (IRF)