Fatwa Syeikh al-Syarbashi: Azan: Bid'ah Ucapan Radhitu Billahi Rabba & marhaban bi habibi wa qurrata `aini

Soal: Seorang muazin mengumandangkan azan. Tatkala sampai pada ucapan "asyhadu anna Muhammadar Rasulullah", dia berhenti untuk mengucapkan kata-kata "radhitu billahi rabba, wabil Islami dina, wabi Muhammadin rasuli" ("aku rela Allah SWT sebagai Tuhanku, aku rela Islam sebagai agamaku, dan aku rela Muhammad sebagai rasul"). Apakah yang demikian itu dibolehkan?

Jawab:
Kata-kata azan yang ada di dalam agama Islam telah dikenal, yaitu:
(Allahu Akbar, Allahu Akbar, asyhadu alla ilaha illallah, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, hayya `alash shalah, hayya alal falah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaha illallah. )

Kalimat-kalimat azan tersebut harus diucapkan secara berturut-turut, disertai perhentian pada masing-masingnya, sehingga antara satu kalimat dengan kalimat berikutnya dipisah oleh sikap diam sejenak. Masing-masing kalimat itu tidak boleh dipisah oleh waktu yang panjang, dan tidak boleh juga disela oleh ucapan lain.

Seorang muazin boleh mengulangi ucapan syahadatain, yaitu ucapan "asyhadu alla ilaha illallah, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah ". Caranya, ucapan pertama dilakukan dengan suara perlahan, dan ucapan kedua dilakukan dengan suara keras, di­sertai pengulangan sebagaimana pada ucapan bagian azan yang lain. Perbuatan ini dinamakan tarji` (pengulangan) di dalam azan. Jika seorang muazin tidak melakukan hal ini maka dia tidak di­pandang melakukan kesalahan.

Seseorang tidak boleh mengubah ucapan-ucapan azan yang ada, baik dengan cara menambah ataupun menguranginya. Karena, Rasulullah saw telah bersabda, "Barangsiapa menciptakan sesuatu yang baru di dalam urusan kami maka hal itu tertolak." Yang demikian itu adalah kebatilan yang tidak dibolehkan. Rasulullah saw mengatakan, "Jauhilah olehmu perbuatan menciptakan yang baru di dalam urusan agama, karena menciptakan sesuatu yang baru di dalam agama adalah bid'ah."

Dianjurkan bagi orang yang mendengar azan untuk meng­ucapkan salawat kepada Rasulullah saw, setelah terlebih dahulu ikut mengucapkan apa yang diucapkan oleh muazin. Hal ini ber­dasarkan hadis yang mengatakan,

Jika kamu mendengar ucapan muazin maka hendaknya kamu mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan. Setelah itu kamu mengucapkan salawat kepadaku. Karena, barang­siapa mengucapkan satu salawat kepadaku maka Allah SWT akan mengucapkan sepuluh salawat untuknya. Kemudian mo­honlah kepada Allah akan syafaatku, karena itu merupakan satu kedudukan yang terdapat di dalam surga, yang tidak layak ke­cuali untuk seorang hamba Allah SWT. Siapa saja yang memohon syafaatku kepada Allah maka syafaat pasti datang kepadanya.

Para ulama mengatakan bahwa salah satu bidah yang terjadi di dalam azan ialah, tatkala mengucapkan kalimat "asyhadu anna Muhammadar rasulullah ", muazin menambahkan ucapan "radhitu billahi rabba, wabil Islami dina, wabi Muhammadin nabiyya". Mereka telah meriwayatkan sebuah hadis yang dinisbahkan kepada Rasulullah saw yang berkaitan dengan hal ini, namun hadis tersebut tidak sahih.

Demikian juga, para ulama mengatakan bahwa salah satu bid'ah yang terdapat di dalam azan ialah, manakala mereka mendengar ucapan "asyhadu anna Muhammadar rasulullah" di dalam azan, mereka mencium kuku-kuku mereka dan mengusapkannya pada mata mereka. Mereka berkeyakinan bahwa yang demikian itu akan menjaga seseorang dari penyakit rabun mata. Ada lagi di antara mereka yang, pada saat melakukan perbuatan itu, meng­ucapkan: "marhaban bi habibi wa qurrata `aini Muhammadibni Abdilah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam" ("selamat datang wahai kekasih dan belahan jiwaku, Muhammad bin `Abdullah saw").

Para ulama memberikan komentar terhadap ucapan di atas dengan mengatakan, "Tidak sah mengucapkan semua itu."

Oleh karena itu, kita harus mencukupkan diri dengan hanya berpegang kepada ucapan-uacapan azan yang telah ditetapkan agama.

Petikan: Yas'alunaka - Tanya Jawab Lengkap Tentang Agama Dan Kehidupan, Dr Ahmad asy-Syarbashi, Penerbit Lentera