Pengkhianatan Syiah: Merekalah Yang Memusnahkan Khazanah Keilmuan Milik Umat Islam

Pengkhianatan Nashiruddin Ath-Thusi

Nashiruddin Ath-Thusi hidup sezaman dengan menteri Ibnu Al-Alqami dan dia adalah seorang Syi'i Rafidhi yang jahat seperti dia. Jenis pengkhianatannya bermacam-macam, antara membantu memerangi Ahlu sunnah dan mengambil harta benda mereka, serta pemikiran mereka.

Soal pengkhianatannya dalam membantu membunuh orang-orang Ahlu sunnah adalah jelas dan nyata. Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, "al-Khuja Nashiruddin bersalah kepada orang-orang Ismailiyah pemilik benteng Al-Almut, kemudian bersalah kepada Hulako, padahal dia bersamanya pada perang Baghdad.

Beliau juga berkata di tempat lain, "Nashiruddin adalah salah seorang menterinya Syams Asy-Syumus dan juga ayahnya sebelumnya yaitu Ala'uddin bin Jalaluddin. Mereka mempunyai hubungan nasab dengan Nizar bin Al-Mustanshir Al-Ubaidi. Hulako memilih Nashiruddin untuk membantunya, seperti seorang perdana menteri. Ketika Hulako datang dan dia merasa takut untuk membunuh khalifah —dalam perang Baghdad tahun 656 H -- menteri Ath-Thusi ini menenangkannya (agar jangan takut). Kemudian mereka membunuhnya dengan cara menendangnya, dengan cara dia dimasukkan ke dalam karung, agar darahnya tidak menetes ke tanah. Ath-Thusi juga memprovokasi khalifah untuk membunuh para ulama, para qadhi, para pejabat, para pemimpin dan para pembuat undang-undang (Anggota Dewan). Maka dia harus bertanggung jawab atas dosa-dosa semua itu.

 

Orang-orang Syiah memuji pengkhianatan yang telah diperbuat oleh Ath-Thusi dan mereka menyayanginya, dan menganggap hal itu sebagai kemenangan yang nyata bagi Islam, contohnya:

Ulama mereka, Muhammad Baqir Al-Musawi dalam kitab Raudhat Al-Jannat ketika menulis tentang Ath-Thusi (1/300301), mengatakan, "Dia adalah seorang peneliti, pembicara, orang yang bijaksana, yang baik dan mulia... Di antara salah satu ceritanya yang terkenal adalah cerita di mana dia diminta untuk menjadi menteri seorang sultan yang sederhana dalam mengawasi Iran, Hulako Khan bin Tauli Jengis Khan, salah seorang pemimpin besar Tatar dan pegunungan Mongolia. Dan kedatangannya bersama rombongan sultan dengan penuh kesiapan ke Dar As-Salam Baghdad, untuk membimbing orang-orang, memperbaiki negara, memutus rantai penindasan dan kerusakan, memadamkan lingkaran kezhaliman dan kekacauan dengan menghancurkan lingkaran kekuasaan Bani Abbas dan melakukan pembunuhan massal terhadap para pengikut mereka yang zhalim, sehingga darah mereka yang kotor mengalir bagai air sungai, kemudian mengalir ke sungai Dajlah dan sebagian lagi ke neraka Jahanam lembah kebinasaan dan tempat orang-orang yang celaka dan jahat.

 

Mahasuci Allah, pengkhianatan dibilang sebagai membimbing orang-orang, dan memperbaiki negara?!

 

Benar apa yang telah difirmankan oleh Allah Azza wa Jalla tentang perumpamaan orang-orang yang berkhianat dan membuat kerusakan, yaitu:

"Dan bila dikatakan kepada mereka, Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,' mereka menjawab, `Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan kebaikan.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (AlBaqarah: 11-12)

 

Khumaini telah memuji Nashiruddin Ath-Thusi dan memberkati pengkhianatannya, dan menganggapnya sebagai kemenangan yang nyata bagi Islam. Dia mengatakan dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyah, "Apabila situasi taqiyyah mengharuskan salah seorang dari kita untuk masuk ke dalam barisan para penguasa, maka hal itu harus ditolak, walaupun penolakan tersebut berakibat dia dibunuh, kecuali masuknya dia secara formal membawa kemenangan yang nyata bagi Islam dan kaum muslimin, seperti masuknya Ali bin Yaqtin dan Nashiruddin Ath-Thusi Rahimahumallah. "

 

Dia juga mengatakan, "Orang-orang juga merasakan menyesal atas kepergian Al-Khuja Nashiruddin Ath-Thusi dan orang-orang seperti dia yang telah memberikan pengorbanan yang besar untuk Islam.

 

Begitulah, ketika timbangan sudah terbalik, pengkhianatan terhadap Islam dan kaum muslimin dianggap sebagai pengorbanan yang besar terhadap Islam dan kaum muslimin!!

 

Sesungguhnya laknat Allah bagi orang-orang yang tidak menegakkan timbangan dengan adil, dan mengurangi timbangan.

 

Pengkhianatan Ath-Thusi dalam pembunuhan, telah berdampak pada pengkhianatan yang serius, yaitu pengkhianatan terhadap kebudayaan umat Islam, warisannya, pemikirannya, dan kebudayaannya. Karena Ath-Thusi bila diteliti, dia adalah seorang yang menguasai berbagai disiplin ilmu, terutama ilmu kalam, filsafat, dan mantiq. Dia sangat paham untuk mengarahkan serangannya yang mematikan terhadap umat Islam, terhadap warisan kebudayaan dan pemikirannya. Dia berusaha untuk menghancurkan buku-buku, memusnahkannya, dan merampasnya, serta mempertahankan para filsuf dan tukang-tukang ramal.

 

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, "Pada tahun 657 H Al-Khawajah Nashiruddin Ath-Thusi melakukan pengintaian di kota Muraghah dan memindahkan begitu banyak buku-buku wakaf yang sebelumnya ada di Baghdad ke sana. Dia mendirikan Dar Al-Hikmah untuk mengorganisir para filsuf di sana dan menetapkan tiga dirham bagi setiap orang dalam sehari semalam.

 

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, "Ketika peran itu berpindah ke tangan penyokong kemusyrikan dan atheisme, yaitu menteri para atheis Nashiruddin Ath-Thusi menterinya Hulako, dia membebaskan dirinya dari para pengikut Rasulullah yang mulia dan para pemeluk agamanya. Dia mengangkat pedangnya pada mereka, sehingga saudara-saudaranya terbebas dari para atheis. Dan dia sembuh, kemudian membunuh khalifah, para qadhi, para fuqaha, dan ahli hadits, serta mempertahankan para filsuf, tukang-tukang ramal, dan para penyihir. Dan memindahkan sekolah-sekolah wakaf, masjid-masjid, dan pengajian-pengajian kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai pemiliknya dan pemimpinnya.

 

Dalam buku-bukunya dia mendukung pendapat tentang qidamnya alam dan tidak adanya ma'ad (akhirat), serta mengingkari sifat-sifat Allah Azza wa Jalla tentang ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, hidup-Nya, pendengaran dan penglihatan-Nya, dan bahwasanya Dia tidak berada di dalam alam maupun di luar alam, serta tidak ada satu Tuhan pun yang disembah di atas arsy. Dia menjadikan sekolah-sekolah untuk para atheis. Dia juga ingin mengubah shalat dan menjadikannya hanya dua rakaat, tetapi itu tidak terlaksana. Pada akhirnya dia mempelajari ilmu sihir. Dia adalah seorang penyihir yang menyembah berhala. Muhammad Asy-Syahrastani menentang Ibnu Sina dalam kitab yang dia beri judul Al-Mushara'ah. Dia menentang pendapatnya tentang qidam-nya alam, dan pengingkarannya terhadap akhirat serta menafikan ilmu-Nya Allah dan kekuasaan-Nya serta penciptaan alam semesta. Kemudian sepontan para penyokong atheisme menghadapinya, lalu mundur. Dia menyanggahnya dengan buku yang berjudul Mushara'at Al-Mushara'ah. Kesimpulannya, bahwa orang ini dan para pengikutnya adalah orang-orang atheis yang tidak beriman kepada Allah, kepada para malaikat, Kitab-Kitab-Nya, para rasul dan hari akhir.

 

Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib berkata, "Nashiruddin Ath-Thusi... datang di barisan depan pasukan pembunuh Hulako. Mereka berdua mengatur pembantaian masal anak-anak dan orang-orang tua di hadapan kaum muslimin dan muslimat. Dia merestui menenggelamkan buku-buku ilmu pengetahuan Islam di sungai Dajlah, sehingga sampai menjadikan airnya berwarna hitam mengalir selama beberapa hari oleh tinta buku-buku yang telah ditulis dengan tangan. Hilang pula bersamanya, warisan Islam yang sangat berharga; sejarah, sastra, bahasa, syair dan hikmah, terutama ilmu-ilmu syar'i dan karya-karya generasi pertama ulama salaf yang sangat banyak saat itu, dan telah musnah bersama musnahnya karya-karya sejenisnya dalam tragedi kebudayaan yang belum pernah ada tandingannya tersebut.

 

Pengkhianatan terhadap peradaban dan kebudayaan ini telah memalingkan pandangan saya pada sesuatu yang penting; yaitu bahwa kita ketika sedang membaca buku-buku biografi para tokoh atau buku-buku yang khusus mencatat judul-judul buku, kita sering mendengar tentang puluhan bahkan ratusan karya-karya besar, tetapi kita dikejutkan oleh tidak sampainya karya-karya tersebut kepada kita, kecuali hanya sedikit saja.

 

Maka, kita mengetahui bahwa pengkhianatan terhadap peradaban dan kebudayaan adalah sebab di balik hilangnya sebagian besar karya-karya berharga milik umat ini, sampai datang imperialisme baru, lalu mencuri puluhan ensiklopedi ilmiah dari warisan umat ini dan membawanya ke negaranya. Siapakah yang tahu; kemungkinan tangan-tangan pengkhianat Syiahlah yang telah berbuat terhadap warisan umat ini saat sekarang seperti yang dilakukan pada masa lalu.

 

Perlu disebutkan, bahwa dalam peperangan terakhir di Iraq ketika orang-orang "Tatar baru" di bawah pimpinan Hulako Bush datang ke Baghdad, adalah juga sebagai akibat dari pengkhianatan. Kekacauan pun terjadi di seluruh negeri. Orang-orang Syiah sengaja datang ke tempat-tempat penyimpanan dokumen-dokumen, lalu mereka mencuri  semuanya. Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kita kembali.

 

 


Nota: Petikan Buku Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam (terjemahan), oleh Dr Imad Abdus Sami’ Husain, terbitan al-Kautsar